Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan

Dianjurkan....! Biasakan Minum Air Putih Saat Bangun Tidur

Selasa, 29 Oktober 2013
Minum air putih saat bangun tidur sangat dianjurkan dikarenakan banyak sekali manfaat yang didapatkan apabila meminum air putih disaat bangun tidur. Oleh karenanya cobalah biasakan meminum air putih disaat bangun tidur. Berikut beberapa manfaat yang akan didapatkan jika meminum air putih disaat bangun tidur:
1. Menambah energi
Minum air saat bangun tidur dapat meningkatkan metabolisme, membantu seseorang menjadi lebih waspada dan merasa lebih segar karena adanya peningkatan energi di dalam tubuh. Hal ini karena hampir semua bagian tubuh memerlukan air agar bisa bekerja secara optimal, jika tubuh dehidrasi akan timbul kelelahan dan lesu sehingga menjadi tidak efisien.

2. Mencegah sakit
Jika sering sakit, hal ini dapat dikarenakan tubuh kekurangan cairan. Air memegang peranan penting dalam menjaga sistem limfatik. Ketika sistem ini seimbang, tubuh dapat melawan infeksi dengan lebih baik.

3. Mengurangi berat badan
Minum air saat bangun tidur baik untuk sistem pencernaan manusia. Hal inilah yang membuat cara ini efektif untuk mengurangi berat badan. Penelitian menunjukkan, minum air saat perut kosong di pagi hari dapat meningkatkan laju metabolisme sepanjang hari. Air juga membuat rasa kenyang sehingga dapat menunda lapar.

4. Menghilangkan racun
Minum air di pagi hari akan membantu meringankan fungsi ginjal dalam hal menghilangkan berbagai racun dan produk buangan (limbah) dari dalam sistem tubuh. Hal ini karena saat malam hari tubuh tidak mendapatkan asupan cairan.

Source: Kompas.Com
---- Catatanya Didit ( diditnote.blogspot.com )----

ALAT KONTRASEPSI INJEKSI DEPO PROGESTIN

Jumat, 19 April 2013
A. Pengertian
Depo Progestin merupakan suatu  alat Kontrasepsi suntikan, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal.

B. Komposisi Depo Progestin
Suspensi steril medroxy progesteron acetat dalam air.
Tiap 3 ml mengandung :        
Medroxy progesteron acetat   150 mg.
Trap 1 ml mengandung :
Medroxy progesteron acetat   150 mg.

C. Farmakologi (Cara Kerja)
Cara kerja medroxy progesteron acetat adalah menghambat ovulasi. Depo Progestin dengan takaran 150 mg yang diberikan secara im. tap 3 bulan bekerja sebagai kontrasepsi pada wanita, apabila diberikan selama masa 5 hari pertama dari siklus haid yang normal atau secepatnya setelah melahirkan. Selama pengobatan, siklus haid yang normal berubah menjadi tidak tertentu dan terjadi perdarahan di vagina yang tidak dapat diperkirakan atau spotting yang bermacam-macam lamanya atau amenorea sempuma.
Lamanya perdarahan atau spotting pada sebagian besar wanita adalah 7 (Tujuh)hari atau kurang dari itu tiap bulan. Kekerapan perdarahan cenderung menurun dengan dilanjutkannya pemberian suntikan. Kadang-kadang timbul perdarahan yang beriebihan atau waktu yang lebih lama tetutama pada awal pengobatan dan biasanya dapat diatasi dengan pemberian estrogen secara oral atau parenteral yang setara dengan 0.05 sampai 0.1 mg ethynil estradiol tiap hari selama 7 - 21 hari. Pemulihan kembali siklus haid yang normal membutuhkan waktu 5 - 28 bulan setelah suntikan terakhir Depo Progestin.

D. Indikasi
Depo Progestin digunakan untuk kontrasepsi bila dengan cara lain seperti pil oral/IUD, tidak dapat dilakukan.

E. Kontra Indikasi
-     Penderita yang peka terhadap medroxy progesteron acetat.
-     Perdarahan divagina yang tidak diketahui penyebabnya
-     Kelainan patologis payudara yang tidak diketahui penyebabnya.
-     Perdarahan pada saluran kemih yang tidak diketahui penyebabnya
-     Kehamilan.

F. Efek Samping
Peristiwa-peristiwa berikut telah disusun berdasarkan kegawatannya dan bukan karena kekerapan terjadinya:
1.   Reaksi anafilaksis dan anafilaktik.
2.   Penyakit tromboemboiik tromboplebitis dan emboli paru-paru
3.   Sistim syaraf pusat gelisah, tidak bisa tidur, mengantuk, letih, depresi, pusing dan sakit kepala.
4.   Selaput kulit dan iendir, urticaria , pruritis. bercak merah, jerawat, hirsuBsm dan alopecia.
5.   Gastrointestinal: mual.
6.   Payudara lembek dan gaiactorrhea.
7.   Leher rahim perubahan pada erosi dan sekresi.
8.   Miscellaneous: hyperpyrexia, perubahan berat badan dan moonfacies.
9.   Reaksi setempat sakit: gumpalan dari sisa yang ketnggalan dan perubahan wama kulit ditempat suntikan.

G. Dosis
Takaran yang dianjurkan adalah 150 mg Depo Progestin tiap 3 bulan secara i.m. yang dalam. Untuk lebih memastikan bahwa aceptor tidak hamil pada saat suntikan pertama dilakukan, dianjurkan agar diberikan suntikan selama masa 5 hari pertama setelah mendapat haid yang normal atau dalam masa 6 minggu setelah melahirkan.

Depo Progestin tidak mengganggu laktasi walaupun medroxy progesteron acetat diekskresi didalam air susu ibu, tetapi jumlahnya sangat kecil sampai saat ini tidak pernah dilaporkan adanya efek samping pada pertumbuhan bayi. Dianjurkan agar dokter/petugas yang bertanggung jawab secara langsung terhadap para aceptor memberitahukan kepada mereka bahwa pada permulaan pemberian, siklus haid berubah, perdarahan yang tidak teratur atau spotting bisa terjadi, tetapi keadaan semacam ini akan berkurang bahkan bisa timbul amenorea bila pemakaian Depo Progestin.

H. Keuntungan
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara yang paling baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1% pertahun (Saifuddin, 1996). Suntikan KB tidak mengganggu kelancaran air susu ibu (ASI), kecuali Cyclofem. Suntikan KB mungkin dapat melindungi ibu dari anemia (kurang darah), memberi perlindungan terhadap radang panggul dan untuk pengobatan kanker bagian dalam rahim.
Kontrasepsi suntik memiliki resiko kesehatan yang sangat kecil, tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri. Pemeriksaan dalam tidak diperlukan pada pemakaian awal, dan dapat dilaksanakan oleh tenaga paramedis baik perawat maupun bidan. Kontrasepsi suntik yang tidak mengandung estrogen tidak mempengaruhi secara serius pada penyakit jantung dan reaksi penggumpalan darah. Oleh karena tindakan dilakukan oleh tenaga medis/paramedis, peserta tidak perlu menyimpan obat suntik, tidak perlu mengingat setiap hari, kecuali hanya untuk kembali melakukan suntikan berikutnya. Kontrasepsi ini tidak menimbulkan ketergantungan, hanya saja peserta harus rutin kontrol setiap 1, 2 atau 3 bulan. Reaksi suntikan berlangsung sangat cepat (kurang dri 24 jam), dan dapat digunakan oleh wanita tua di atas 35 tahun, kecuali Cyclofem.


I. Kerugian
a.   Gangguan haid. Siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, spotting, tidak haid sama sekali.
b.   Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu
c.   Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
d.   Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
e.   Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
f.    Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan densitas tulang
g.   Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, dan jerawat.

Macam Alasan Penyebab Melakukan Aborsi

Dengan berbagai alasan seseorang melakukan aborsi tetapi alasan yang paling utama adalah alasan-alasan non-medis. Di Amerika Serikat alasan aborsi antara lain :
  1. Tidak ingin memiliki anak karena khawatir menggangu karir, sekolah, atau tanggung jawab yang lain (75%)
  2. Tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak (66%)
  3. Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah (50%)

Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Ada orang yang menggugurkan kandungan karena tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka tidak tahu akan keajaiban-keajaiban yang dirasakan seorang calon ibu, saat merasakan gerakan dan geliatan anak dalam kandungannya.
Alasan-alasan seperti ini juga diberikan oleh para wanita di Indonesia yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa membunuh janin yang ada di dalam kandungannya adalah boleh dan benar. Semua alasan-alasan ini tidak berdasar.
Sebaliknya, alasan-alasan ini hanya menunjukkan ketidak pedulian seorang wanita, yang hanya mementingkan dirinya sendiri (www.genetik2000.com). Data ini juga didukung oleh studi dari Aida Torres dan Jacqueline Sarroch Forrest (1998) yang menyatakan bahwa hanya 1% kasus aborsi karena perkosaan atau incest (hubungan intim satu darah), 3% karena membahayakan nyawa calon ibu, dan 3% karena janin akan bertumbuh dengan cacat tubuh yang serius. Sedangkan 93% kasus aborsi adalah karena alasan-alasan yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri termasuk takut tidak mampu membiayai, takut dikucilkan, malu, atau gengsi (www.genetik2000.com).

Macam Pelaksanaan Aborsi

Pelaksanaan aborsi adalah sebagai berikut. Kalau kehamilan lebih muda, lebih mudah dilakukan. Makin besar makin lebih sulit dan resikonya makin banyak bagi si ibu, cara-cara yang dilakukan di kilnik-klinik aborsi itu bermacam-macam, biasanya tergantung dari besar kecilnya janinnya.



  1. Abortus untuk kehamilan sampai 12 minggu biasanya dilakukan dengan MR/ Menstrual Regulation yaitu dengan penyedotan (semacam alat penghisap debu yang biasa, tetapi 2 kali lebih kuat).
  2. Pada janin yang lebih besar (sampai 16 minggu) dengan cara Dilatasi & Curetage.
  3. Sampai 24 minggu. Di sini bayi sudah besar sekali, sebab itu biasanya harus dibunuh lebih dahulu dengan meracuni dia. Misalnya dengan cairan garam yang pekat seperti saline.  Dengan jarum khusus,  obat itu langsung  disuntikkan  ke dalam rahim,  ke dalam air ketuban, sehingga anaknya keracunan,  kulitnya terbakar, lalu mati. 
  4. Di atas 28 minggu biasanya dilakukan dengan suntikan prostaglandin sehingga terjadi proses kelahiran buatan dan anak itu dipaksakan untuk keluar dari tempat pemeliharaan dan perlindungannya.
  5. Juga dipakai cara operasi Sesaria seperti pada kehamilan yang biasa (www.genetik2000.com).

Pengertian Aborsi dan Macam-Macam Aborsi

Aborsi secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan. (JNPK-KR, 1999) Secara lebih spesifik, Ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian aborsi sebagai berikut : “Pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram.” Definisi lain menyatakan, aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Aborsi merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh (Kapita Seleksi Kedokteran, Edisi 3, halaman 260). Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:
  1. Aborsi Spontan/ Alamiah atau Abortus Spontaneus
  2. Aborsi Buatan/ Sengaja atau  Abortus Provocatus Criminalis
  3. Aborsi Terapeutik/ Medis atau  Abortus Provocatus Therapeuticum
 Aborsi spontan/ alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.

Aborsi buatan/ sengaja/ Abortus Provocatus Criminalis adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).

Aborsi terapeutik / Abortus Provocatus therapeuticum adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa (www.genetik2000.com).

ANGINA PEKTORIS

Kamis, 24 Januari 2013
  1. PENGERTIAN
1.       Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel.  (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
2.       Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti.  (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
3.       Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)

  1. ETIOLOGI
1.       Ateriosklerosis
2.       Spasme arteri koroner
3.       Anemia berat
4.       Artritis
5.       Aorta Insufisiensi

  1. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1.       Dapat Diubah (dimodifikasi)
a.       Diet (hiperlipidemia)
b.       Rokok
c.       Hipertensi
d.       Stress
e.       Obesitas
f.        Kurang aktifitas
g.       Diabetes Mellitus
h.       Pemakaian kontrasepsi oral
2.       Tidak dapat diubah
a.       Usia
b.       Jenis Kelamin
c.       Ras
d.       Herediter
e.       Kepribadian tipe A

  1. FAKTOR PENCETUS SERANGAN
Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :
1.       Emosi
2.       Stress
3.       Kerja fisik terlalu berat
4.       Hawa terlalu panas dan lembab
5.       Terlalu kenyang
6.       Banyak merokok


  1. GAMBARAN KLINIS
1.       Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri.
2.       Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
3.       Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
4.       Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
5.       Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
6.       Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
7.       Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

  1. TIPE SERANGAN
1.       Angina Pektoris Stabil
q  Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.
q  Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas.
q  Durasi nyeri 3 – 15 menit.
2.       Angina Pektoris Tidak Stabil
q  Sifat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip dengan angina pektoris stabil.
q  Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.
q  Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.
q  Kurang responsif terhadap nitrat.
q  Lebih sering ditemukan depresisegmen ST.
q  Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.
3.       Angina Prinzmental (Angina Varian).
q  Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.
q  Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik.
q  EKG menunjukkan elevaasi segmen ST.
q  Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.
q  Dapat terjadi aritmia.

  1. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suply oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner).  Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.  Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan.  Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat.  Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksid0 yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif.  Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.  Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %.  Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang.  Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.  Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri.  Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi.  Proses ini tidak menghasilkan asam laktat.  Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.

KELAINAN OROFARING


A. DEFINISI
Adalah peradangan akut yang terjadi pada tonsil maupun faring dan dapat mengenai semua umur.
1.Tonsilitis dan faringitis akut
          Peradangan ini disebabkan oleh kuman Streptokokus beta hemolitikus, Streptokokus Virridans, Streptokokus Pyogenes.
          Selain itu juga bisa disebabkan oleh infeksi virus seperti Adenovirus, Influenza, dan Herpes.Peradangan ini bisa ditularkan melalui droplet.
         
Patologi
          Mula – mula terjadi infiltrasi pada lapisan epitel, bila epitel terkikis  maka jaringan limfoid superficial mengadakan reaksi dengan terjadinya pembendungan peradangan  dengan infiltrasi PMN. Proses ini secara klinis  tampak detritus yang makin lama main melebar sehingga terbentuk  membran semu (pseudomembran). Jika terlihat jelas maka disebut Tonsilitis Folikularis dan jika sudah menjadi satu disebut Tonsilitis lakunaris.
         
Manifestasi Klinis
-         Suhu tubuh meningkat samapai 40 0 C
-         Nyeri di sendi serta nyeri telan
-         Odimofagi
-         Anorexia
-         Otalgia karena melibatkan N IX
-         Kelenjar submandibula membengkak
-         Pada pemeriksaan didapatkan faring hiperemis, tonsil membengkak, detritus.

Komplikasi
Komplikasi yang sering muncul yaitu OMA, Abses peritonsil dan parafaring, Toksemia, septicemia, brokitis akut, nefitis akut, miokarditis serta arthritis.

2.    Tonsilitis Membranosa
a.     Tonsilitis Difteria
Disebabkan oleh Corynobacterim diphteriae gram (+)
Kuman ini normalnya berada terdapat di saluran napas bagian atas: hidung, faring, laring dan tidak semua yang terinfeksi menjadi sakit depend on titer antitoksin dalam darah seseorang ( 0,03 sat/cc)

Manifestasi klinis
Pada umumnya akan ditemukan membran semu di tonsil, namun gejala dari Tonsilitis bentuk ini dapat dibedakan menjadi:
-         Gejala umum
     Suhu subfebril, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah serta nadi lambat.
-         Gejala Lokal
     Nyeri untuk menelan, tosil membengkak ditutupi oleh bercak putih kotor, makin lama makin meluas dan bersatu membentuk  pseudomembran dan akan mengalami perdarahan jika diangkat, kelenjar limfe leher membengkak disebut dengan Burgemeesters hals
-         Gejala akibat eksotoksin
     Jantung---Miokarditis, Saraf cranial---Motorik dan jika mengenai ginjal teerjadi Albuminuria.

Pemeriksaan
Dilakukan pemeriksaan lab. pembuatan preparat langsung kuman.


Komplikasi
Laringitis difteri, Miokarditis, Kelumpuhan otot mole, faring dan laring,Albuminuria.

b.    Tonsilitis septic.
Penyebab dari tonsillitis ini yaitu Streptococcus haemolitycus dalam susu sapi sehingga menjadi epidemi.
Manifestasi klinis.
-         Demam tinggi 39 – 41 0C dan timbul mendadak, kadang disertai mual dan muntah.
-         Nyeri telan dan nyeri di seluruh tubuh.
-         Lemah.
-         Nyeri kepala hebat.
Pemeriksaan.
Pada mukosa faring dan tonsil hyperemis dan adanya bercak putih abu, edema sekitar uvula dan mulut berbau (foetor ex ore).
Komplikasi.
Otitis media, laryngitis, pembesaran kelenjar limfe mandibula.
Terapi
a.     Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya epidemi dengan cara pasteurisasi.
b. Kausal.
Antibiotik (sulfonamid) untuk S. haemolityc.
c.     Symptomatic.

3.    Tonsilitis kronik.
Penyebabnya sama dengan tonsillitis akut, sedangkan factor predisposisinya berupa rangsangan menahun, pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat, hygiene yang buruk.

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TINITUS

A. DEFINISI
     Adalah bunyi abnormal yang didengar penderita yang berasal dari dalam kepala (telinga berdengung)
Berdasarkan sifatnya Tinitus dibagi menjadi:
1.Tinitus Objektif: Bila pemeriksa juga ikut mendengar suara
2. Tinitus subyektif: Hanya didengar oleh penderita
B. ETIOLOGI
-         Gangguan vaskuler seperti aneurisma , aterosklerosis, tumor karotis. Bunyi tinitus seirama dengan denyut nadi bila kita mendengarkan  dengan stetoskop  pada aurikula ataup
-         un daerah sekitar telinga.
-         Gangguan mekanis ,ex : Tuba Eustachius membuka ketika bernapas sehingga membran timpani bergerak.
-         Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot – otot palatum.
-         Tuli sensorial
-         Intoksikasi obat ( Salisilat, Kina, Streptomycin dll)
-         Hipertensi endolimfatik
-         Gangguan vaskuler koklea terminal pada penderita stress oleh karena gangguan keseimbangan  endokrin( menjelang menstruasi, hipometabolisme atau pada saat hamil)
C. PATOFISIOLOGI
D. MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala pada tinitus umumnya penderita merasa mendengar suara yang bergemuruh, dalam intensitas rendah amupun tinggi.
E. PENATALAKSANAAN
-         Penyamaran tinitus
-         Penjelasan yang baik karena rasa takut dapat memperberat keluhan selain itu dan jelaskan bahwa ini adalah gangguan yang sulit diatasi  sehingga sebaiknya penderita berdaptasi dengan kondisi seperti ini.
-         Obat penenang maupun obat tidur jika tinitus sangat mengganggu kebutuhan tidur penderita.

F. FOKUS INTERVENSI
1.          Gangguan rasa nyaman
2.          Perubahan persepsi sensori

Asuhan Keperawatan (ASKEP) Meningitis

A.  PENGERTIAN
Miningitis adalah suatu reaksi keradangan yang mengenai satu atau semua lapisan selaput yang menghubungkan jaringan otak dan sumsum tulang belakang, yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa, disebabkan oleh bakteri spesifik / non spesifik atau virus.


B.  ANATOMI  &  FISIOLOGI  SELAPUT  OTAK.
Selaput otak terdiri dari 3 lapisan dari luar kedalam yaitu Durameter, Aranoid, Piameter.

Durameter terdiri dari lapisan yang berfungsi kecuali didalam tulang tengkorak, dimana lapisan terluarnya melekat pada tulang dan terdapat sinus venosus. Falx serebri adalah lapisan vertikal durameter yang memisahkan kedua hemisfer serebri pada garis tengah. Tentorium serebri adalah ruang horizontal dari Durameter yang memisahkan lobus oksipitalis dari serebelum.

Araknoid merupakan membran lembut yang bersatu ditempatnya dengan parameter, diantaranya terdapat ruang subarnoid dimana terdapat arteri dan vena serebral dan dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Sisterna magna adalah bagian terbesar dari ruang subaranoid disebelah belakang otak belakang, memenuhi celah diantara serebelum dan medulla oblongata.

Piamater merupakan membran halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang mensuplai darah keotak dalam jumlah yang banyak. Piameter adalah lapisan yang langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medula spinalis.

Miningitis dapat disebabkan oleh berbagai organisme yang bervariasi, tetapi ada tiga tipe utama yakni:

1.      Infeksi bakteri, piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama meningokokus, pneumokokus, dan basil influenza.

2.      Tuberkulosis, yang disebabkan oleh basil tuberkel (Mycobacterium tuberculose).

3.      Infeksi virus, yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.






C.  ETIOLOGI   &   EPIDEMIOLOGI.
Miningitis bakteri dapat disebabkan oleh setiap agen bakteri yang bervariasi. Haemophilus Influenza (Tipe β), Streptococcus pneumoniae, dan Naisseria Miningitis  (meningokokus) bertanggung jawab terhadap meningitis pada 95 % anak-anak yang lebih tua dari usia 2 bulan. Haemophilus influenzae merupakan organisme yang dominan pada usia anak-anak 3 bulan sampai dengan 3 tahun, tetapi jarang pada bayi dibawah 3 bulan, yang terlindungi oleh substansi bakteri yang didapat secara pasif dan pada anak-anak diatas 5 tahun yang mulai mendapat perlindungan ini.

Organisme lain adalah Streptococus β hemolyticus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Penyebab utama meningitis neonatus adalah organisme Streptococcus  β hemolyticus dan Escherichia coli. Infeksi Escherichia coli jarang terjadi pada anak-anak usia setelah bayi (lebih dari 1 tahun). Meningitis meningokokus (serebrospinal epidemik) terjadi pada bentuk epidemik dan merupakan satu-satunya tipe yang ditularkan melalui infeksi droplet dari sekresi nasofaring. Meskipun kondisi ini dapat berkembang pada setiap usia, risiko infeksi meningokokus meningkat dengan seringnya kontak dan oleh karena itu infeksi terutama terjadi pada anak-anak usia sekolah dan adolesens.

Laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan perempuan terutama pada periode neonatal. Angka kesakitan tertinggi seteleh timbulnya meningitis mengenai anak-anak pada usia antara kelahiran sampai dengan empat tahun (dibawah lima tahun). Faktor maternal seperti ketuban pecah dini dan infeksi ibu hamil selama trimester akhir merupakan penyebab utama meningitis neonatal.

Terjadinya defisiensi pada mekanisme imun dan berkurangnya aktivitas leukosit dapat mempengaruhi insiden pada bayi baru lahir, anak-anak dengan defisiensi imunoglobulin, dan anak-anak yang menerima obat-obatan imunosupresif. Meningitis yang muncul sebagai perluasan dari infeksi-infeksi bakteri yang bervariasi kemungkinan disebabkan kurangnya resistensi terhadap berbagai organisme penyebab. Adanya kelainan SSP, prosedur / trauma bedah saraf, infeksi-infeksi primer dilain organ merupakan faktor-faktor yang dihubungkan dengan mudahnya terkena penyakit ini.



D.  PATOFISIOLOGI

Rute infeksi yang paling sering adalah penyebaran vaskuler dari fokus-fokus infeksi ketempat lain. Contohnya organisme nasofaring menyerang pembuluh-pembuluh darah yang terdapat didaerah tersebut dan memasuki aliran darah keserebral atau membentuk tromboemboli yang melepaskan emboli sepsis kedalam aliran darah. Invasi oleh perluasan langsung dari infeksi-infeksi disinus paranasal dan disinus mastoid jarang terjadi. Organisme-organisme dapat masuk melalui implantasi langsung setelah luka yang tertembus, fraktur tulang tengkorak yang memberikan sebuah lubang kedalam kulit atau sinus, lumbal fungsi, prosedur pembedahan dan kelainan-kelainan anatomis seperti shunt ventrikuler. Organisme-organisme yang terimplantasi menyebar kedalam cairan serebrospinal oleh penyebaran infeksi sepanjang rongga subarnoid.

Proses infeksi yang terlihat adalah inflamasi, eksudasi akumulasi leukosit dan tingkat kerusakan jaringan yang bervariasi. Otak menjadi hiperemis, edema, dan seluruh permukaan otak tertutup oleh lapisan eksudat purulen dengan bervariasi organisme.


E.     MANIFESTASI  KLINIK.
Neonatus    :

♦        Gejala tidak khas

♦        Panas   ±

♦        Anak tampak malas, lemah, tidak mau minum, muntah dan kesadaran menurun.

♦        Ubun-ubun besar kadang-kadang cembung.

♦        Pernafasan tidak teratur.

Anak umur  2 bulan  -  > 2 tahun   :

♦        Gambaran klasik (-)

♦        Hanya panas, muntah, gelisah, kejang berulang.

♦        Kadang-kadang “ high pitched cry “.

Anak umur  > 2   tahun   :

♦        Panas , menggigil, muntah, nyeri kepala.

♦        Kejang

♦        Gangguan kesadaran.

♦        Tanda-tanda rangsang meningeal : kaku kuduk, tanda Brudzinski dan Kering.



Gejala yang sering terlihat  :

·         Keluhan penderita mula-mula nyeri kepala yang menjalar ketengkuk dan punggung

·         Kesadaran menurun

·         Kaku kuduk, disebabkan mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk ;

·         Terdapat tanda kernig dan Brundzinski yang positif.

Tanda kernig yang positif adalah bila paha ditekuk  90°  keventral, tungkai dapat diluruskan pada sendi lutut.


F.     PERUMUSAN  DIAGNOSTIK.
Diagnostik miningitis akut bakteri tidak dapat dibuat berdasarkan gejala klinis. Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan cairan serebrospinal melalui lumbal pungsi. Tekanan cairan diukur dan cairannya diambil untuk kultur, pewarnaan gram, hitung jenis, serta menentukan kadar glukosa dan protein. Penemuan ini umumnya diagnostik Kultur dan pewarnaan gram dibutuhkan untuk menentukan kuman penyebab. Tekanan cairan serebrospinal biasanya meningkat, tetapi interpretasinya seringkali sulit bila anak sedang menangis.

Umumnya dijumpai leukositosis dengan predominan leukosit PMN, tapi bisa sangat bervariasi. Warna cairan biasanya opalesen sampai keruh, reaksi nonne dan pandy akan positif. Kadar khlorida akan menurun tapi ini tidak selalu terjadi. Kadar glukosa berkurang, umunya sesuai perbandingan lamanya dan beratnya infeksi. Hubungan antara glukosa dalam cairan serebrospinal dengan glukosa darah sangat penting dalam mengevaluasi kadar glukosa dalam cairan serebrospinal, oleh karena itu sampel glukosa darah diambil kira-kira 30 menit sebelum lumbal fungsi. Konsentrasi protein biasanya meningkat.

Kultur darah dianjurkan pada anak-anak yang dicurigai menderita meningitis. Dijumpai leukositosis, pergeseran ke kiri, dan anemia megaloblastik.


G.  PERAWATAN.
- Pada waktu kejang.

* Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka

* Hisap lendir.

* Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi

* Hindarkan penderita dari rudapaksa (mis jatuh )

- Bila penderita tidak sadar lama.

* Beri makanan melalui sonda

* Cegah dekubitus dan pneumonia ortostatik dengan merubah posisi penderita sesering mungkin.

* Cegah kekeringan kornea dengan boorwater / salep antibiotika

- Pada inkontinensia alvi lakukan lavement

- Pemantauan ketat.

* Tekanan Darah

* Pernafasan

* nadi

* Produksi air kemih

* Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini ada DIC

- Penanganan penyulit.

- Fisiotherapi dan rehabilitasi.


H.  PENATALAKSANAAN
Farmakologis   :

= Obat anti infeksi

* Miningitis tuberkuosa :

- Isoniazid 10 –20 mg/kg/24 jam oral, 2 x sehari maksimal 500 mg, selama 1½ tahun.

- Rifampisin 10 –15 mg/kg/24 jam oral, 1 x sehari selama 1 tahun.

- Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/kg/24 jam (IM) 1-2 x sehari, selama 3 bulan.

* Miningitis bakterial, umur < - 2 bulan:

- Sefalosporin Generasi ke 3

- Ampisilina 150 – 200 mg (400mg)/kg/24 jam IV, 4-6 x sehari, dan

- Kloramfenikol 50 mg/kg BB/24 jam IV 4 x / hari.

* Miningitis bakterial umur > bulan:

- Ampisilina 150 – 200 mg (400mg)/ kg/24 jam IV, 4-6 sehari .

- Kloramfenikol 100 mg/kg/24 jam IV, 4 x sehari atau

- Sefalosporin Generasi ke 3.

= Pengobatan Simtomatis.

* Diazepam IV; 0,2 – 0,5 mg / kg/dosis, atau rektal : 0,4 – 0,6 mg/kg/ dosis.

Kemudian dilanjutkan dengan:

- Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 x sehari atau

- Fenobarbital 5 – 7 mg /kg/24 jam, 3 kali sehari.

* Turunkan panas:

- Antipiretik: parasetamol/salisilat 10 mg/kg/dosis.

- Kompres air PAM / es

= Pengobatan Suportif

* Cairan intravena

* Zat asam.


I.    PROGNOSA 
Usia anak, kecepatan diagnosa setelah timbulnya gejala dan terapi yang adekwat penting dalam prognosa meningitis bakteri. Mortalitas miningitis neonatus kira-kira 50 % meskipun gejala yang timbul terlambat, sedangkan meningitis streptokokus β hemolitikus menimbulkan 15 – 20 % kasus fatal. Bila penyebabnya hemofilus influensya dan miningitis meningokokus, angka mortalitas 5 – 10 % sedangkan meningitis pneumokokus pada bayi dan anak-anak kira-kira 20 %.

Gejala sisa miningitis bacteri paling sering terjadi pada anak-anak usia 2 tahun pertama dan sangat sedikit pada anak-anak dengan miningitis meningokokus. Gejala sisa pada bayi terutama disebabkan oleh hidrosefalus komunikasi dan efek-efek yang lebih besar berupa cerebritis pada otak yang belum matang. Pada anak-anak yang lebih besar gajala sisa dihubungkan dengan proses peradangan itu sendiri atau akibat dari vaskulitis (radang pembuluh darah) yang menyertai penyakit ini. Evaluasi saraf N VIII penting atau sekurang-kurangnya follow up 6 bulan untuk mengkaji kemungkinan hilangnya pendengaran.

 

Catatannya Didit Copyright © 2011-2015 | Powered by Blogger