Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi. Tampilkan semua postingan

Karakteristik Penelitian Kuantitatif

Selasa, 29 Oktober 2013
Adapun karateristik penelitian kuantitatif adalah:
1. Instrumen Pengumpulan Data
Pada penelitian ini instrumen data berupa tes tertulis, kuesioner,dan kolom-kolom pengamatan yag dibantu dengan alat tulis. Peneliti dapat menugaskan sejumlah enumerator (petugas pengumpul data). Karena data yang akan dikumpulkan serta isntrumen yang digunakan sudah baku. Insturmen penelitiannya telah disiapkan sebelumnya, sehingga tidak mungkin untuk melakukan perubahan.

2. Data Dapat Diobservasi Dan Diukur
Dalam penelitian kuantitatif, analisis datanya menggunakan proses matematik yang disebut prosedur statistik, seperti menyediakan informasi untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian.

3. Rancangan Penelitian atau Desain
Dipakai untuk menuju pada rencana penelitian tentang bagaimana ia akan melaksanakan penelitian. Dalam hal ini termasuk di dalamnya langkah-langkah/prosedur, yang terdiri dari :
pengumpulan data
menganalisis dan melaporkan hasil penelitian.

4. Jumlah Subjek Banyak
Semakin banyak subjek (anggota sampel) yang diteliti semakin kuat keabsahan jeneralisasi

5. Perbedaan Penelitian Kualitatif Dan Kuabtitatif
a.Dari segi teknik, masing-masing memberikan pada tekanan pada teknik tertentu dalam prosedur, prosedur, pengumpulan data dan analisis data.
b.Dari Segi Kriteria Kualitas, Penelitian Kuantitatif menggunakan kriteria validitas (internal dan eksternal), reliabilitas dan objektifitas untuk menentukan kualitas penelitiannya. Sedangkan penelitian kuantitatif menggunakan kriteria relevansi dalam menentukan kualitas penelitiannya (apakah yang dilaporkan peneliti sesuai dengan kenyataan)
c.Dari segi sumber teori, Penelitian Kuantitatif teori secara opriori, yaitu menghasilkan hipotesis dan kemudian dilakukan verifikasi. Sedangkan Penelitian Kualitatif, merumuskan teori sejak awal dan bersumber dalam kehidupan nyata.
d.Dari segi maksud, Penelitian kuantitatif tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan melalui pengujian hipotesis yang ditetapkan sebelumnya.sedangkan Penelitian Kualitatif, merumuskan pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku
---- Catatanya Didit ( diditnote.blogspot.com )----

Karakteritik Penelitian Kualitatif



Paradigma alamiah yang menjadi pegangan penelitian kualitatif melahirkan karakteristik yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Adapun karakteristik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :

1. Penelitian kualitatif memiliki setting alamiah sebagai sumber data
Maksudnya bahwa prilaku manusia secara signifikan dipengaruhi oleh setiting dimana perilaku itu terjadi, dan mereka merasa bahwa perilaku dapat dimengerti secara baik apabila diobservasikan dalam setting dimana peristiwanya terjadi. Dalam hal ini, ketika data diperoleh, peneliti harus perlu mengetahui dimana data itu diperoleh, bagaimana memperoleh data tersebut dan dibawah peristiwa apa data itu muncul atau terjadi.

2. Peneliti sebagai instrumen penelitian
Dalam hal ini instrume penelitian yang menjadi pondasi adalah peneliti itu sendiri, karena desain, data yang dikumpulkan, dan fokus penelitian bisa berubah sesuai dengan kondisi alamiah, sehingga peneliti dapat melakukan penyesuaian sejalan dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi dilapangan karena peneliti sebagai instrumen penelitian, ia bukan benda mati seperti angka, skala, tes, dan sebagainya, tetapi ia dapat berhubungan dengan subjek penelitian dan mampu memahami keterkaitannya dengan kenyataan di lapangan sehingga dapat mengantisipasi dan mengganti strategi apabila kehadirannya akan mengganggu fenomena yang terjadi.

3. Peneliti kualitatif lebih memperhatikan proses dari pada hasil penelitian
Misalnya, untuk meneliti pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya maka peneliti akan menterjemahkan pola asuh orang tua tersebut dengan mengobservasi bagaimana sikap dan prilaku orang tua dalam interaksi sehari-harinya dengan anak-anaknya dan mengobservasi bagaimana sikap dan prilaku anak-anak dalam berinteraksi dengan orang tuanya. Dengan mengumpulkan data dari interaksi tersebut, maka peneliti baru dapat menarik kesimpulan.

4. peneliti kualitatif adalah deskriptif
Yaitu berusaha menggambarkan suatu gejala sosial, ekonomi dan keagamaan. Dalam hal ini, data yang dikumpulkan adalah bentuk kata-kata atau gambar, data tersebut meliputi transkip interviu, catatan lapangan, fotografi, vidiotapes, dokumen personal, memo, dan catatan resmi lainnya. Peneliti mencoba untuk menganalisa semua data yang diperoleh secara sama atau sedekat mungkin dengan bentuk data aslinya saat data itu di catat atau direkam.
5. Cenderung menganalisa datanya secara induktif
Peneliti mencari data tidak untuk menguji hipotesis tapi untuk melakukan abstraksi berdasarkan fakta-fakta atau keterangan-keterangan yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif terdapat batas yang ditentukan oleh fokus penelitian yang berdasarkan interaksi antara peneliti dan permasalahan penelitian.

6. Pemaknaan Meupakan Perhatian Utama dari Penelitian Kaulitatif
Orientasi pada perspektif yang diteliti (partisipant perspektif). Membutuhkan kepastian bahwa ia memperoleh perspektif secara akurat.

7. Pentingnya Kontak Personal Langsung dengan Subjek
Untuk menjaga setting alamiah dan kelancaran memperoleh data yang diperlukan. Hasil penelitian juga bergantung pada kualitas hubungan antara peneliti sebagai pencari data dan subjek tau kelompok subjek yang menjadi sumber data.
8. Biasanya Merupakan Penelitian Lapangan ( Field Word)
Menuntut peneliti untuk secara fisik menjumpai atau mendatangi orang, masyarakat, setting, tempat, institut (field) agar dapat mengobservasi fenomena yang diteliti dalam setting alamiahnya.

---- Catatanya Didit ( diditnote.blogspot.com )----

Pengertian dan Perihal tentang Paradigma Penelitian Kuantitatif


Merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat yang menolak unsur metafisik dan feologik dari realitas sosial.
Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap panca indra. Pengetahuan itu,bersumber dari fakta yang diperoleh melalui panca indera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.
Paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua, yaitu :
pemikiran rasional data empiris yang ukuran kebenaran terletak pada koherensi, yaitu sesuai dengan teori-teori terdahulu dan korenpondensi, yaitu sesuai dengan kenyataan empiris.
Penelitian kuantitaif dikembangkan oleh penganut pasitivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte yang berpendapat bahwa untuk memacu pekembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi kedalam riset-riset ilmu sosial. Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting sehingga pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variable yang diteliti yang kemudian menghasilkan data kuantitatif

---- Catatanya Didit ( diditnote.blogspot.com )----

Pengertian dan Perihal tentang Paradigma Penelitian Kualitatif


Adalah satu model penelitian humanistik yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa sosial/budaya.
Penelitian Kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Hussert (1859-1926). Pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan sistematis untuk menemukan teori bukan untuk menguji teori atau hipotesis . dalam penelitian kualitatif “proses” penelitian merupakan suatu yang lebih penting dibanding dengan hasil yang diperoleh.
Istilah penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya, misalnya dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat dan prilaku seseorang, peranan organisasi serta pergerakan sosial.
Penelitian kualitatif dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang sedikitpun belum diketahui. Penelitian kualitatif bertolak dari paradigma alamiah, artinya penelitian ini mengasumsikan bahwa realitas empiris terjadi dalam suatu konteks sosial-kultural saling terkait satu sama lain. Peneliti berusaha menggambarkan fenomena sosial holistik tanpa perlakuan manipulatif. Keaslian dan kepastian merupakan faktor yang sangat ditekankan.

Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma penelitian menggunakan induksi analitis, yaitu satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kategori-kategori dan simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik (angka) melainkan dalam bentuk deskripsi dan ekstrapolasi yaitu cara pengambilan keputusan yang dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus yang lainnya.
---- Catatanya Didit ( diditnote.blogspot.com )----

Cara Menentukan Judul Penelitian Yang Baik

Kamis, 30 Mei 2013
Judul penelitian berhubungan dengan sifat masalah penelitiannya. Menurut sifatnya masalah dapat berupa masalah penelitian deskriptif, korelasi atau perbandingan. Beberapa unsur yang harus ada dalam judul penelitian adalah:

  •  variabel, 
  • sifat masalah, 
  • responden penelitian, 
  • tempat penelitian dan
  •  waktu penelitian. 


Misalnya  dalam penelitian mengenai "Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar siswa SMA di Yogyakarta Tahun 2013". Unsur-unsur penelitiannya adalah

  •  motivasi belajar dan prestasi bbelajar (variabel)
  • hubungan(sifat masalah), 
  • siswa SMA (responden), 
  • Yogyakarta (tempat penelitian) 
  • dan tahun 2013 (waktu penelitian)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Model Kemmis & Taggart

Rabu, 29 Mei 2013
Komponen tindakan (acting) dengan pengamatan (observing) dijadikan menjadi satu kesatuan karena pada kenyatannya kedua komponen tersebut merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Begitu suatu kegiatan dilakukan, observasi harus dilakukan sesegera mungkin. (Kemmis & Taggart,1988)  Model Kemmis & Taggart terdiri  dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Untaian-untaian tersebut dipandang sebagai suatu siklus. Oleh karena itu pengertian siklus di sini adalah putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.


Banyaknya siklus dalam penelitian tindakan kelas tergantung dari permasalahan yang perlu dipecahkan. Jika suatu penelitian mengkaitkan materi perkuliahan dan kompetensi belajar dengan sendirinya jumlah siklus untuk setiap mata kuliah melibatkan lebih dari dua siklus.


Contoh Masalah, Rumusan, dan Hipotesis Tindakan Pada Penelitian TIndakan Kelas (PTK)

No
Masalah
Rumusan
Hipotesis Tindakan
1.
rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan siswa
siswa semester 5 mestinya telah mampu mengajukan pertanyaan yang kritis, tetapi dalam kenyataannya pertanyaan mereka lebih bersifat klarifikasi
Jika tingkat kekritisan pertanyaan siswa dijadikan penilaian kualitas partisipasi mereka setelah diberi contoh dengan pembahasannya, kemampuan mengajukan pertanyaan kritis mereka akan meningkat.
2.
rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan
Staf di kantor ini mestinya melakukan apa yang diperintahkan atasannya, tetapi dalam kenyataanya mereka sering sekali melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan
Jika diterapkan sanksi terhadap ketidaktaatan terhadap perintah atasan setelah dibahasa akibat buruknya, ketaatan staf terhadap perintah atasan akan meningkat.
 3.
rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris dan rendahnya motivasi belajar mereka
siswa kelas bahasa Inggris mestinya terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar menggunakan bahasa Inggris lewat kegiatan yang menyenangkan sehingga motivasi belajarnya tinggi, tetapi dalam kenyataan mereka kurang sekali terlibat sehingga motivasi mereka rendah.
Dengan kegiatan yang menyenangkan dimana mereka belajar menggunakan bahasa Inggris, keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar akan meningkat, dan begitu juga motivasi belajar mereka.
 4.
rendahnya kualitas siswa mengerjakan tugas
Kualitas siswa dalam mengerjakan tugas meningkat jika dalam penilaian akahir bobot tugas ditingkatkan dan setiap tugas diberi umpan balik.
Dalam kontrak perkuliahan tugas diberi bobot 15% serta tugas diberi umpan balik dan penilaian, sehingga kualitas tugas akan semaikin meningkat.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan adalah kajian tentang situasi sosial, dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh proses, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional.

Sedangkan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. Kelas merupakan sekelompok siswa penerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas menggabungkan tindakan bermakna dengan prosedur penelitian yang merupakan suatu upaya memecahkan masalah sekaligus mencari dukungan ilmiah.


1. Prinsip pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
  • Guru dalam melaksanakan Tridarma PT, pelaksanaan penelitian tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan pembelajaran.
  • Metodologi yang digunakan harus reliabel artinya terencana dengan cermat sehingga tindakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan.
  • Permasalahan yang dipilih harus menarik, nyata, tidak menyulitkan, dapat dipecahkan, berada dalam jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan, dan peneliti merasa terpanggil untuk meningkatkan diri.
  • Pegumpulan data tidak mengganggu atau menyita waktu terlalu banyak.
  • Metode dan teknik yang digunakan tidak terlalu menuntut, baik dari kemampuan guru itu sendiri maupun dari segi waktu.
  • Harus memperhatikan etika penelitian, tatakrama penelitian, dan rambu-rambu pelaksanaan yang berlaku umum, seperti yang diteliti harus dihormati kerahasiannya, semua yang terkait setuju dengan prinsip-prinsip penelitian, harus ada laporan dan lain-lain.
  • Kegiatan penelitian pada dasarnya harus merupakan gerakan yang berkelanjutan (on-going), karena cakupan peningkatan dan pengembangan sepanjang waktu menjadi tantangan.
  • Situasional artinya berkaitan langsung dengan permasalahan yang konkrit dihadapi guru dalam kesehariannya. Hal ini dapat berkaitan dengan diagnosis masalah dalam konteks tertentu. Masalah diangkat dari praktik pembelajaran keseharian yang dapat dirasakan oleh guru atau siswa atau keduanya.
  • Kontekstual artinya upaya penyelesaian atau pemecahannya demi peningkatan mutu pendidikan, prestasi siswa, profesi guru dan mutu PT tidak terlepas dari konteksnya dengan cara merefleksi diri, yaitu sebagai praktisi dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus secara sistemik meneliti dirinya sendiri.
2. Karakteristiknya penelitian tindakan kelas (PTK)
  • Bersifat kolaboratif dan partisipatif antara guru, siswa, dan  individu lain yang terkait dalam proses pembelajaran. Satuan kerja sama secara langsung atau tidak langsung dengan perspektif berbeda
  • Bersifat self-evaluatif (evaluatif dan reflektif) yaitu kegiatan memodifikasi praktek yang dilakukan secara kontinu, dievaluasi dalam situasi yang ada dan terus berjalan, dengan  tujuan akhir untuk meningkatkan perbaikan dalam praktik yang dilakukan guru.
  • Bersifat fleksibel dan adaptif (luwes dan menyesuaikan) memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan. Adanya penyesuaian menjadikan prosedur yang cocok untuk di perkuliahan yang memiliki banyak kendala. 
  • Penelitian tindakan kelas memanfaatkan data pengamatan dan perilaku empirik yaitu menelaah ada tidaknya kemajuan , sementara penelitian dan proses pembelajaran terus berjalan, semua informasi yang ada dikumpulkan, diolah, didiskusikan, dinilai oleh beberapa individu yang terkait untuk melakukan tindakan. Perubahan kemajuan dicermati dari waktu ke waktu dengan melakukan evaluasi formatif.
  • Sifat dan sasaran penelitian tindakan kelas adalah situasional-spesifik, tujuannya pemecahan masalah praktis. Dengan demikian temuan-temuannya berguna dalam dimensi praktis tidak dapat digeneralisasi sehingga tidak secara langsung memiliki andil pada usaha pengembangan ilmu. 
3. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
  • Agar guru dapat memperbaiki mutu kinerja atau meningkatan proses pembelajaran secara berkesinambungan. Pada dasarnya melekat pada terlaksananya misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru. Hal ini  dicapai melalui refleksi untuk mendiagnosis keadaan. Melakukan analisis-sintesis-interpretasi-eksplanasi dalam refleksi dan kemudian mencobakan alternatif tindakan serta dievaluasi efektifitasnya dan merupakan kegiatan daur ulang tindakan.
  • Untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan guru dalam menghadapi permasalahan yang nyata pada proses pembelajaran di kelasnya dan atau di PTnya sendiri. PTK dapat sebagai alat untuk memecahkan masalah yang didiagnosis dalam situasi tertentu.
  • Dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan inovasi pada pembelajaran ke dalam sistem yang ada karena sulit dilakukan oleh upaya pembaharuan yang dilakukan pada umumnya.
4. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
  • Dapat meningkatkan, melibatkan dan mengembangkan pembelajaran.
  • Praktik pembelajaran yang berarti guru makin diberdayakan mengambil prakarsa profesional yang semakin mandiri.
  • Pemberdayaan guru menuju profesionalisme guru, dengan segala upaya, ketulusannya, dan kemandiriannya mengembangkan model-model pembelajaran yang baru dan diujicobakan di kelasnya.
  • guru berani menggunakan  hal-hal yang baru dengan segala  risiko yang mungkin terjadi  dalam mencobakan serta diduga mampu peningkatan mutu pembelajaran.


Paradigma Penelitian

Paradigma Penelitian adalah pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang mencerminkan:

  • Jenis dan  jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, 
  • Teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis,
  • Jenis dan jumlah hipotesis
  • Teknik analisis statistik yang akan digunakan.

Contoh:
1. paradigma ganda dengan dua variabel independen


2. paradigma ganda dengan tiga variabel independen

3. paradigma jalur

Jenis-Jenis Rumusan Masalah

Ada beberapa jenis rumusan masalah, yaitu Rumusan Masalah Deskriptif ,Rumusan Masalah Komparatif
dan, Rumusan Masalah Asosiatif.

Contoh rumusan masalah deskriptif.


  • Seberapa baik kinerja guru tersertifikasi?
  • Bagaimana minat mahasiswa terhadap program WCU?
  • Seberapa besar motivasi mahasiswa dalam perkuliahan MPP?
  • Seberapa besar hasil belajar mahasiswa yang mengikuti perkuliahan DDL?
  • Seberapa besar tingkat kepedulian guru BP terhadap tingkat sosial ekonomi mahasiswa?
  • Seberapa tinggi tingkat produktifitas dosen dalam melaksanakan Tridarma PT?
Contoh rumusan masalah komparatif.
  • Adakah perbedaan prestasi belajar antara siswa dari SMK negeri dan swasta?
  • Adakah perbedaan kinerja antara guru tersertifikasi jalur portofolio dengan jalur PLPG?
  • Adakah perbedaan IP dan motivasi belajar antara mahasiswa FT UNY asal SMA dengan SMK?
  • Adakah perbedaan prestasi belajar, partisipasi belajar dan minat belajar antara siswa yang diajar dengan metode ceramah dengan metode perbantuan multimedia?
Contoh rumusan masalah asosiatif
1. Hubungan Simetris
  • Adakah hubungan antara kedisiplinan berlalulintas dengan jarak rumah ke kampus?
  • Adakah hubungan antara prestasi belajar dengan kemampuan berkomunikasi?
  • Adakah hubungan antara besarnya uang saku dengan perhatian DOI
2. Hubungan Kausal
  • Adakah pengaruh sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa SMK?
  • Adakah pengaruh motivasi kerja terhadap karier jabatan guru?
  • Adakah pengaruh pengalaman kerja, latar belakang pendidikan dan prestasi kerja terhadap kemampuan mengajar?
3. Hubungan Interaktif/Timbal Balik
  • Adakah hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa SMKN 2 Depok?
  • Adakah hubungan antara kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotorik dengan tingkat partisipasi belajar?
  • Adakah  hubungan antara besarnya gaji, motivasi kerja dan penilaian atasan dengan prestasi kerja guru?








Validitas Pada Instrumen Penelitian

Validitas (Validity) Adalah sejauh mana suatu alat ukur atau tes melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Tes yang valid adalah tes yang mampu mengukur apa yang hendak diukur, tes yang valid untuk tujuan tertentu mungkin tidak valid untuk tujuan lain. Oleh karena itu validitas selalu dikaitkan dengan tujuan tertentu.

Ada 3 jenis validitas pengukuran yaitu:

•Validitas isi,
Validitas isi adalah kecocokan di antara isi alat ukur (tes) dengan isi sasaran ukur. Artinya alat ukur yang mempunyai validitas isi yang baik adalah tes yang benar-benar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam kurikulum.

•Validitas kriteria
Validitas kriteria adalah validitas yang berdasarkan kriteria yaitu kecocokan diantara prediktor (skor prediktor) dengan kriteria (skor kriteria). Validitas kriteria ditujukan kepada baik atau tidak baiknya prediktor (skor prediktor).

•Validitas konstruk
Validitas konstruk adalah validitas yang menyangkut bangunan teoretik variabel yang akan diukur. Sebuah tes dikatakan mempunyai validitas konstruk apabila butir-butir soal yang disusun dalam tes mengukur setiap aspek berpikir dari sebuah variabel yang akan diukur melalui tes tersebut.






Jenis-jenis Non Probabilty Sampling



Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidential, Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling.
  1. Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contohnya :
Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini diurutkan dari 1 – 125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dst) atau nomor ganjil (1, 2, 3, dst), atau bisa juga mengambil nomor kelipatan (2, 4, 8, 16, dst)
  1. Sampling Kuota,
Adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan mengajar guru SMK. Berdasarkan perhitungan diperoleh jumlah sampel 100 guru dengan jumlah SMK adalah 12, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing SMK 9-10 siswa per sekolah.
  1. Sampling Insidential,
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
Misalnya penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.

  1. Sampling Purposive,
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin meneliti permasalahan seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Atau penelitian tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
  1. Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Saya sendiri lebih senang menyebutnya total sampling.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian.
  1. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti Multi Level Marketing….). Misalnya akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden terus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.
Teknik ini juga lebih cocok untuk penelitian kualitatif.

Jenis-Jenis Probability Sampling



Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik ini meliputi simpel random sampling, proportional stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, dan cluster sampling.


a.    Simple random sampling
Simple Random Sampling adalah teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara acak, tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi.
Misalnya :
Populasi adalah siswa SD Negeri XX Jakarta yang berjumlah 500 orang. Jumlah sampel ditentukan dengan Tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan adalah sebesar 5% sehingga jumlah sampel ditentukan sebesar 205.
Jumlah sampel 205 ini selanjutnya diambil secara acak tanpa memperhatikan kelas, usia dan jenis kelamin.
b.    Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam populasi.
Misalnya, populasi adalah karyawan PT. XYZ berjumlah 125. Dengan rumus Slovin (lihat contoh di atas) dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi sendiri terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang masing-masing berjumlah :
Marketing       : 15
Produksi         : 75
Penjualan       : 35
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masinng bagian tersebut ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan
Marketing       : 15 / 125 x 95            = 11,4 dibulatkan 11
Produksi         : 75 / 125 x 95            = 57
Penjualan       : 35 / 125 x 95            = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah keheterogenan (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal bidang kerja sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau kelompok diambil secara proporsional untuk memperolehnya.
c.    Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya.
Misalnya, populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu:
SMP    : 120 orang
SMA    : 660 orang
DIII     :  180 orang
S1        : 20 orang
S2        : 20 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel.
d.    Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja berbeda.
Contoh :
Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMK. Populasi penelitian adalah siswa SMK seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
Tahap Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap kedua. Mengambil sampel SMK di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak SMK tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMK yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan.

Landasan Teori Pada Penelitian Skripsi

Kamis, 04 April 2013
Landasan teori dari suatu penelitian atau karya ilmiah sering juga disebut studi literatur atau tinjauan pustaka. Salah satu alasan penting suatu karya ilmiah adalah landasan teori didukung hasil riset yang ada. Melalui penelitian atau kajian teori diperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat para ahli, kemudian peneliti merumuskan pendapat peneliti yang relative baru. Peneliti harus belajar dan melatih dirinya untuk mengatasi masalah-masalah yang sulit, bagaimana mengekspresikan semua bahan dari berbagai sumber menjadi suatu karya tulis yang memiliki bobot ilmiah. 
Biasanya setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori, konsep dan genralisasi-generalisasi hasil penelitian yang bisa dijadikan sebagai landasan teori untuk pelaksanaan penelitian. Hoy & Miskel (1987) mendefinisikan : "Theory is a set of interrealated concepts, assumptions and generalizations that systematically describes and explains regularities in behavior in organization". Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa teori berkenaan dengan konsep, asumsi dan generalisasi yang logis yang berfungsi untuk mengungkapkan, menjelaskan dan memprediksi prilaku yang memiliki keteraturan sebagai stimulan dan panduan untuk mengembangkan pengetahuan.
Landasan teori membahas teori-teori tentang ilmu-ilmu yang diteliti. Penyajian teori dalam landasan teori tidak terlalu sulit karena bersumber dari literatur-literatur yang relevan. Jadi seharusnya teori yang dikemukakan harus benar-benar menjadi dasar bidang yang diteliti. Selain itu, pada bagian ini juga membahas temuan-temuan penelitian sebelumnya yang terkait langsung dengan focus penelitian. Teori atau temuan penelitian peneliti lain yang dikutip harus disebut sumbernya untuk menghindari tuduhan plagiarism (mengutip karya orang lain tanpa menyebut sumbernya). Etika ilmiah tidak membenarkan seorang peneliti melakukan pencurian karya orang lain. 
Secara sistematika suatu penelitian, landasan teori terdiri dari: (1) studi kepeustakaan, (2) kerangka pikir, (3) penelitian yang relevan, dan (4) hipotesis penelitian.

Kerangka Konsep Dalam Penelitian

Penentuan kerangka konseptual oleh peneliti akan sangat membantu dalam menentukan arah pelaksanaan penelitian. Kerangka konseptual merupakan kerangka pikir mengenai hubungan antar variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antar konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada studi kepustakaan.
Konsep dalam hal ini adalah suatu abstraksi atau gambaran yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh karena itu, konsep tidak dapat diamati dan diukur secara langsung. Agar supaya konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel.
Dengan adanya kerangka konseptual akan bermanfaat bagi:
1.   Minat penelitian akan lebih terfokus ke dalam bentuk yang layak diuji dan akan memudahkan penyusunan hipotesis.
2.   Memudahkan identifikasi fungsi variabel penelitian, baik sebagai variabel bebas, variabel tergantung, variabel kontrol/kendali, variable moderator atau variabel lainnya.

Contoh “pendidikan” adalah konsep. Agar dapat diukur maka dijabarkan dalam bentuk variabel, misalnya: “tingkat pendidikan atau jenis pendidikan atau latar belakang pendidikan”. “kemampuan guru” adalah konsep, dapat dijabarkan dalam bentuk varibel misalnya: “kompetensi pedagogic atau kompetensi professional”. “Motivasi” adalah teori, agar dapat diukur dijabarkan menjadi variabel, misalnya “motivasi belajar atau motivasi berprestasi atau motivasi bekerja”. Ketiga contoh di atas dapat disebut sebagai variabel bebas atau variable terikat.
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kerangka konseptual tentu saja harus memperkaya asumsi-asumsi dasar yang berasal dari bahan-bahan referensi yang digunakan. Hal ini dapat diperkuat dengan mengadakan amatan-amatan langsung pada lingkup area masalah yang akan dijadikan penelitian. Dengan demikian kerangka konseptual yang dibuat merupakan paduan yang harmonis antara hasil pemikiran dari konsep-konsep (deduksi) dan hasil empirikal (induksi).
Pola berpikir deduksi adalah proses logika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan menggeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan. Pola pikir induksi adalah proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju kepada suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah menjadi suatu rangkuman hubungan atau suatu generalisasi.

Kerangka Pikir Dalam Penelitian (Skripsi, Thesis. dll)

Kerangka pikir merupakan intisari dari teori yang telah dikembangkan dan mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis.
Perlu dijelaskan bahwa tidak semua penelitian memiliki kerangka pikir. Kerangka pikir pada umumnya hanya diperuntukkan pada jenis penelitian kuantatif. Untuk penelitian kualitatif kerangka berpikirnya terletak pada kasus yang selama ini dilihat atau diamati secara langsung oleh peneliti. Sedangkan untuk penelitian tindakan kerangka berpikirnya terletak pada refleksi, baik pada peneliti maupun pada partisipan. Hanya dengan kerangka berpikir yang tajam akan dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
Kemampuan peneliti untuk menyusun kerangka teoritis akan sangat terkait dengan upaya penelusuran studi kepustakaan, sebagai upaya memperoleh sejumlah referensi yang mendukung dan tepat untuk membahas lingkup kajian penelitian yang dilakukan. Selanjutnya kerangka teoritis yang disusun akan bermanfaat pada saat peneliti menentukan hipotesis penelitian.

Cara Merumuskan Hipotesis

Pengertian hipotesis
Langkah menyusun landasan teori juga merupakan tahapan penelitian yang penting untuk membangun atau merumuskan suatu hipotesis. Landasan teori yang dipilih haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini akan menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan suatu hipotesis penelitian.
Peneliti harus selalu bersikap terbuka terhadap fakta dan kesimpulan terdahulu baik yang memperkuat maupun yang bertentangan dengan prediksinya. Jadi, dalam hal ini telaah teoritik dan temuan penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan prediksi akan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa hipotesis penelitian dapat dirumuskan melalui jalur:
1.   Membaca dan menelaah ulang (reviu) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
2.   Membaca dan mereviu temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang dicari atau ingin dipelajari. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Oleh karena itu, perumusan hipotesis menjadi sangat penting dalam sebuah penelitian.
Manfaat Hipotesis
Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
1.   Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2.   Mengarahkan dan menyiapkan pola pikir peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3.   Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4.   Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
1.   Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
2.   Imajinasi dan pemikiran kreatif dari peneliti.
3.   Kerangka analisis yang digunakan peneliti.
4.   Metode dan desain penelitian yang dipilih peneliti.
Ciri hipotesis yang baik
Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2.   Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
3.   Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
4.   Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat diuji secara spesifik menunjukkan bagaimana
variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
5.   Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Beberapa contoh hipotesis penelitian yang memenuhi kriteria yang tersebut di atas:
1.   Olahraga teratur dengan dosis rendah selama 2 bulan dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada pasien IDDM.
2.   Pemberian drill berupa latihan soal matematika sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 1 bulan siswa SMK kelas 11 dapat meningkatkan prestasi belajar  secara signifikan.
Menggali hipotesis
Didasarkan pada paparan di atas, maka tentu saja merumuskan hipotesis bukan pekerjaan mudah bagi peneliti pemula. Oleh karena itu seorang peneliti dituntut untuk dapat menggali sumber-sumber hipotesis. Untuk itu dipersyaratkan bagi peneliti harus:
1.   Memiliki banyak informasi tentang masalah yang akan dipecahkan dengan cara banyak membaca literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
2.   Memiliki kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat, objek, dan hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
3.   Memiliki kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai dengan kerangka teori dan bidang ilmu yang bersangkutan.
Dari beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa penggalian sumber-sumber hipotesis dapat berasal dari:
1.   Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam yang berkaitan dengan fenomena.
2.   Wawasan dan pengertian yang mendalam tentang suatu fenomena.
3.   Materi bacaan dan literatur yang valid.
4.   Pengalaman individu sebagai suatu reaksi terhadap fenomena.
5.   Data empiris yang tersedia.
6.   Analogi atau kesamaan dan adakalanya menggunakan imajinasi yang berdasar pada fenomena.
Hambatan atau kesulitan dalam merumuskan hipotesis lebih banyak disebabkan karena hal-hal:
1.   Tidak adanya kerangka teori atau tidak ada pengetahuan tentang kerangka teori yang jelas.
2.   Kurangnya kemampuan peneliti untuk menggunakan kerangka teori yang ada.
3.   Belum memahami atau belum memiliki pengetahuan tentang teknik-teknik penelitian yang ada untuk merumuskan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.
Jenis-jenis Hipotesis
Penetapan hipotesis tentu didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati dengan cara pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul pada saat penetapan hipotesis.
Hipotesis dua-arah dan hipotesis satu-arah
Hipotesis penelitian dapat berupa hipotesis dua-arah dan dapat pula berupa hipotesis satu-arah. Kedua macam tersebut dapat berisi pernyataan mengenai adanya perbedaan atau adanya hubungan.
Contoh hipotesis dua arah:
1.   Ada perbedaan berat badan bayi antara bayi yang memperoleh susu tambahan 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan ibu yang tidak berperan ganda.
2.   Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan strategi pemberian drill soal latihan dengan siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ceramah
Hipotesis dua-arah memang kurang spesifik, oleh karena itu perlu diformulasikan dalam hipotesis satu-arah. Contoh:
1.   Terdapat peningkatan berat badan bayi yang signifikan pada bayi yang memperoleh susu tambahan 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dibandingkan dengan berat bayi yang memperoleh susu tambahan 3 gelas dari ibu yang tidak berperan ganda.
2.   Prestasi belajar siswa yang diajar dengan strategi pemberian drill soal latihan lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ceramah.
Hipotesis Statistik
Rumusan hipotesis penelitian, pada saatnya akan diuji dengan menggunakan metode statistik, perlu diterjemahkan dalam bentuk simbolik. Simbol-simbol yang digunakan dalam rumusan hipotesis statistik adalah simbol-simbol parameter. Parameter adalah besaran-besaran yang apa pada populasi.
Sebagai contoh, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya perbedaan kematangan berpikir yang berarti antara siswa putra dan siswa putri SMK Gajah Mungkur Yogyakarta. Hal ini mengandung arti bahwa terdapat perbedaan kematangan berpikir antara siswa putra dan siswa putri dari sekolah tersebut. Dalam statistika, rata-rata berarti mean yang mempunyai simbol M, sedangkan parameter mean bagi populasi adalah m. Oleh karena itu, simbolisasi hipotesis tersebut adalah:
Ha: m1≠ m2           (Hipotesis dua-arah) (kurang spesifik)
Ha: m1 > m2          (Hipotesis satu-arah) (tepat dan spesifik)
Atau
Ha: m1- m2 ≠ 0      (Hipotesis dua-arah)
Ha: m1 - m2 > 0     (Hipotesis satu-arah)
Dengan demikian simbol Ha berarti hipotesis alternatif, yaitu penerjemahan hipotesis penelitian secara operasional. Hipotesis alternatif disebut juga hipotesis kerja. Jadi, statistik sendiri digunakan tidak untuk langsung menguji hipotesis alternatif, akan tetapi digunakan untuk menolak atau menerima hipotesis nihil (nol). Penerimaan atau penolakan hipotesis alternatif merupakan konsekuensi dari penolakan atau penerimaan hipotesis nihil.
Hipotesis nihil atau null hypothesis atau Ho adalah hipotesis yang meniadakan perbedaan antar kelompok atau meniadakan hubungan sebab akibat antar variabel. Hipotesis nihil berisi deklarasi yang meniadakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Contoh dari hipotesis nol secara statistik adalah:
Ho: m1- m2 = 0     (Hipotesis dua-arah)
Ho: m1= m2= 0     (Hipotesis satu-arah)
Pada akhirnya penolakan terhadap hipotesis nihil akan membawa kepada penerimaan hipotesis alternatif, sedangkan penerimaan terhadap hipotesis nihil akan meniadakan hipotesis alternatif.
Kesalahan dalam perumusan hipotesis dan pengujian hipotesis
Dalam perumusan hipotesis dapat saja terjadi kesalahan. Macam kesalahan dalam perumusan hipotesis ada dua macam yaitu:
1.      Menolak hipotesis nihil yang seharusnya diterima, maka disebut kesalahan alpha dan diberi simbol a atau dikenal dengan taraf signifikansi pengukuran.
2.      Menerima hipotesis nihil yang seharusnya ditolak, maka disebut kesalahan beta dan diberi simbol b.
Pada umumnya penelitian di bidang pendidikan digunakan taraf signifikansi 0.05 atau 0.01, sedangkan untuk penelitian kedokteran dan farmasi yang resikonya berkaitan dengan nyawa manusia, diambil taraf signifikansi 0.005 atau 0.001 bahkan mungkin 0.0001. Misalnya saja ditentukan taraf signifikansi 5% maka apabila kesimpulan yang diperoleh diterapkan pada populasi 100 orang, maka akan tepat untuk 95 orang dan 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.
Cara pengujian hipotesis didekati dengan penggunaan kurva normal. Penentuan harga untuk uji hipotesis dapat berasal dari Z-score ataupun T-score. Apabila harga Z-score atau T-score terletak di daerah penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan tidak diterima dan sebaliknya.
 

Catatannya Didit Copyright © 2011-2015 | Powered by Blogger